Surat Gembala Keuskupan Bandung tentang MUSPAS
SURAT GEMBALA
USKUP KEUSKUPAN BANDUNG
“MUSPAS
adalah saat panggilan Ekaristi direfleksikan dan diwujudkan”
Saudari dan saudara yang terkasih,
Berkat Tuhan,
Konferensi Para Uskup Asia yang kesembilan telah diselenggarakan di Manila dari tanggal 10-16 Agustus 2009. Tema konferensi kali ini ialah “Living the Eucharist in Asia” (Penghayatan Ekaristi di Asia). Melalui tema ini, para uskup Asia hendak menggali bagaimana cara menumbuhkan spiritualitas Ekaristi dalam konteks Asia dan pentingnya peranan Ekaristi dalam hidup umat kristiani di Asia. Ekaristi akan menjadi sungguh hidup apabila dirayakan oleh umat yang hidup, yang menyadari akan situasi dan sejarah hidupnya. Kita sadari bahwa Asia adalah rumah bagi beratus-ratus etnik, bahasa, dan kultur; tempat yang subur untuk bertumbuhnya berbagai macam kepercayaan dan agama. Dengan demikian, kita sebagai bagian dari Asia adalah sebuah mosaik kehidupan yang terajut dalam aneka warna suku dan agama, bahasa dan logika. Keberagaman ini sesungguhnya adalah sebuah kekayaan, namun niscaya juga sarat dengan ancaman dengan potensi konflik yang ujung-ujungnya berupa darah dan kekerasan.
Melihat situasi keberagaman suku dan agama yang juga diwarnai dengan fakta perpecahan kelas dan kasta para uskup terdorong untuk merumuskan bahwa panggilan Ekaristi adalah panggilan berkomunitas. Santo Agustinus mengatakan bahwa dalam perayaan Ekaristi “kita menjadi apa yang kita santap” yaitu Tubuh Kristus. Kita menyantap Tubuh Kristus dan dipanggil untuk menjadi bagian-Nya. Perjumpaan kita dengan Yesus dalam Ekaristi haruslah membawa kita kepada semangat hidup berkomunitas. Pemecahan roti yang satu selalu diikuti dengan pembagian roti itu sehingga kita yang banyak menjadi satu karena mengambil bagian dari roti yang satu itu (1 Kor 10:17). Dengan demikian, buah Ekaristi adalah panggilan kita untuk membangun Tubuh Kristus. Dalam arti yang lebih luas, ini adalah panggilan untuk memperjuangkan kesatuan dan toleransi yang berdasarkan keberagaman suku dan agama, melampaui kelas dan kasta. Panggilan Ekaristi adalah panggilan untuk menjadi jembatan rekonsiliasi dan perdamaian di tengah dunia yang tampak semakin pecah dan terbelah.
Selain pluralitas Asia itu, tidaklah bisa dipungkiri bahwa wajah kita saat ini masih menampilkan raut kemiskinan dan penderitaan. Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan tehnologi yang mendukung kelayakan hidup di Asia ternyata belumlah mampu menghapus wajah kemiskinan itu. Kita menghidupi sebuah kehidupan yang terseok karena kelaparan dan pengangguran, terancam oleh teror dan kekerasan. Kita juga menjalani sebuah kehidupan yang terdesak oleh suara-suara orang kalah dan terpinggirkan, tergilas oleh arus globalisasi yang memicu bertumbuhnya kaum migran dan praktek jual beli manusia. Raut kemiskinan ini juga tampak dengan semakin pesatnya dari hari ke hari pertambahan jumlah anak-anak yang tereksploitasi untuk mengais receh di jalanan kota besar, dan dijadikannya gang-gang kota sebagai alas tidur beratapkan langit. Selain itu, tragedi alam telah berulang menggoncang poros kehidupan kita dan memicu detak kekhawatiran akan kehidupan yang rapuh. Gempa bumi yang kita alami beberapa hari lalu telah menyesakkan dada, mengingatkan akan tragedi kemanusiaan yang bertubi-tubi datang dan senantiasa menyisakan isak tangis dan kematian.
Menyadari akan raut kemanusiaan yang terpuruk semacam ini, panggilan Ekaristi adalah panggilan untuk menjadi harapan bagi mereka yang bingung dan putus asa, memberikan air sejuk bagi mereka yang lapar dan dahaga. Dalam Ekaristi, kita menerima Sabda kehidupan yang membuka cakrawala pikiran, dan juga menyantap Roti yang mengobarkan hati. Seperti yang dialami oleh dua murid Emmaus (Luk 24), di tengah kegundahan hati dan kekalutan pikiran mereka mendapat kupasan sabda Kitab Suci dari orang asing yang berjalan bersama mereka. Perjumpaan dengan orang asing itu telah mencerahkan pikiran dan memantapkan iman akan misteri kebangkitan Tuhan. Perjumpaan itu dilanjutkan dengan lebih khidmat dalam peristiwa pemecahan dan pembagian roti. Bagi kedua murid Emmaus, peristiwa itu adalah saat perjumpaan yang intim dengan Yesus Kristus. Perjumpaan itu telah menjadi titik balik kesadaran mereka atas jati diri mereka sebagai pengikut Tuhan yang bangkit. Kesadaran akan jati diri itu membuat hati mereka berkobar-kobar untuk segera menjadi pewarta kebangkitan yang memberikan harapan dan sukacita bagi mereka yang gundah direnggut oleh kekhawatiran dunia.
Saudari-saudara terkasih,
Tahun ini juga telah dicanangkan oleh Bapa Suci Benediktus XVI sebagai Tahun Imam. Tanggal 19 Juni 2009 telah digulirkan ajakan bagi para imam untuk secara khusus merenungkan identitas dan panggilan hidup imamat. Dengan cara ini, spiritualitas imamat didalami dan diperbaharui. Ekaristi menjadi mata air, tempat di mana spiritualitas imamat itu ditimba. Dengan demikian, para imam dipanggil untuk menghidupi semangat Ekaristi sebagai jantung spiritualitas imamat. Hidup dan pewartaannya hendaknya bersumber pada semangat Ekaristi. Dalam semangat Ekaristi ini, para imam menyediakan diri menjadi media rekonsiliasi bagi mereka yang terpecah dan harapan bagi mereka yang gundah. Hanya dengan demikian identitas dan jatidiri imamat itu ditegakkan sebagai sakramen keselamatan Allah. Hidup dalam semangat Ekaristi itu pulalah yang hendaknya menjadi isi pewartaan bagi umat beriman.
Semangat Ekaristi ini pula hendaknya menjadi semangat Musyawarah Pastoral Keuskupan Bandung (MUSPAS) yang sebentar lagi akan dilangsungkan pada 9-11 Oktober 2009. MUSPAS adalah saat umat Keuskupan Bandung merefleksikan dan merumuskan hidup pelayanannya sebagai Gereja Kristus di tanah Parahyangan. Dalam semangat rekonsiliasi ekaristi, Gereja Keuskupan Bandung menempatkan diri sebagai bagian integral dari masyarakat Jawa Barat, menghembuskan roh persaudaraan dan perdamaian. Komuni yang kita terima dalam perayaan Ekaristi adalah sebuah mandat untuk mewujudkan komunio baik di dalam gereja sendiri maupun dunia yang lebih luas. Gereja akan menjadi tanda dan perintis perdamaian di antara bangsa-bangsa. Inilah cara kita menggereja, yaitu membangun komunitas yang hidup, mengakar dan bertumbuh bersama komunitas-komunitas lain di tanah Parahyangan. Cara inilah yang juga disebut a new way of being church, cara baru hidup menggereja, oleh Konferensi Para Uskup Asia ke lima di Lembang tahun 1990. Dengan demikian, Gereja sebagai Tubuh Kristus merangkul dunia, menebarkan rahmat penebusan dan menghidupkan api kebangkitan.
Untuk mewujudkan Gereja semacam ini diperlukan dialog yang terus menerus dengan realitas sosial-budaya, perjumpaan dan sapaan tanpa henti dengan manusia yang sering kali menjadi sahabat dan seteru. Kita jalankan tiga agenda dialog: dialog dengan agama dan kepercayaan, dialog dengan kultur, dan dialog dengan kaum miskin dan tersisih. Kita gali kebajikan agama dan keutamaan kultural; kita tebus dosa dan kelemahan manusia, kita bela mereka yang miskin dan tersingkir.
Saudari-saudara terkasih,
Marilah kita berikan hati dan dukungan kita bagi MUSPAS Keuskupan Bandung. Kita doakan agar MUSPAS menjadi tempat di mana panggilan Ekaristi direfleksikan dan diwujudkan. Dengan demikian, MUSPAS dapat membawa Gereja Keuskupan Bandung menjadi Tubuh Kristus, tanda dan perintis perdamaian dan persaudaraan.
Bandung, 16 September 2009
+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Bandung
